Minggu, 20 Januari 2013

"Jama'ah Ideal" | Renungan Tarbawi Ustadz Musyafa


Jama’ah ideal yang pernah ada secara nyata di suatu fase sejarah ini:

  • Tidak tumbuh dengan tiba-tiba;
  • Tidak ada secara kebetulan;
  • Tidak diciptakan dalam sehari semalam. Begitu pula, ia
  • Tidak muncul dari hasil sebuah anugerah yang mengubah watak segala sesuatu dalam sekejap atau sekilas.
Namun, ia…
  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.

Di dalam semua usaha di atas termanifestasi ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi) terhadap jama’ah pilihan – atas dasar pengetahuan – untuk memikul amanah terbesar ini dan merealisasikan kehendak Allah di muka bumi.

Padahal, pada jama’ah ini terdapat:
  • Al-Fadha-il al-kaminah (berbagai keutamaan), dan
  • Alisti’dadat al-maknunah (potensi-potensi yang tersimpan) di dalam generasi tersebut.
Di samping terdapat al-ahwal al-muhayya-ah (berbagai situasi dan kondisi yang disiapkan untuknya).

Dengan ini semua, cahaya yang mengagumkan itu memancar dalam sejarah manusia; dan terealisir-lah hakikat yang tampak dari jauh seolah-olah mimpi yang mengepak-ngepak di dalam hati, atau mimpi-mimpi yang melayang-layang di dalam imajinasi!

(Sayyid Qutb, Fi Zhilal Al-Qur’an, jilid VI hal. 3337)

.......

Dalam kalimat di atas, Sayyid Qutb –rahimahullah- menjelaskan bagaimana jama’ah Sahabat Nabi Muhammad SAW terjadi pada waktu itu.

Ada empat bagian yang disorot oleh Sayyid Qutb –rahimahullah.
  1. Pertama: Jerih payah dan usaha nabi Muhammad SAW sebagai murabbi yang dikerahkan dalam mentarbiyah mereka.
  2. Kedua: Aspek ri’ayah ilahiyah.
  3. Ketiga: Potensi para sahabat nabi itu sendiri.
  4. Keempat: Situasi dan Kondisi.
Artinya, terjadinya jama’ah sahabat nabi Muhammad SAW (jama’ah yang menakjubkan dalam sejarah umat manusia) terjadi karena:
  1. Pertama: Ada faktor ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi).
  2. Kedua: Potensi dan fadhail sahabat yang luar biasa.
  3. Ketiga: Situasi dan kondisi yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT.
  4. Keempat: Sosok sang murabbi, yaitu Rasulullah SAW.
Meskipun demikian lengkap dan dahsyat faktor yang melingkupi terbentuk dan terlahirkannya jama’ah sahabat, namun, tetap saja, mereka memerlukan tarbiyah yang:
  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.
Lalu bagaimana dengan keinginan kita untuk memunculkan generasi baru yang akan memikul amanah da’wah ini?

Tentu, berbagai hal yang diperlukan lebih besar dan lebih hebat lagi, dan yang terpenting:
  1. Perjalanan da’wah dan tarbiyah kita masih panjang, karenanya:
  2. Jangan terburu-buru, serta, jangan lupa, sekali lagi, pada:
  • Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  • Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  • Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
Semoga perenungan ini ada manfaatnya fid-din wad-dun-ya wal akhirah.

Senin, 14 Januari 2013

ALHAMDULILLAH PKS NO 3, SEMOGA DAPAT TEMBUS 3 BESAR


 
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapat nomor 3 dalam pengundian nomor urut parpol oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Senin (14/1). "Bagi PKS nomor berapa pun tidak masalah. Semua nomor baik," kata Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq usai acara pengundian nomor urut parpol di KPU, Jakarta.

Menurut Luthfi, nomor hanyalah alat untuk memudahkan sosialisasi  PKS kepada masyarakat. Jadi berapa pun nomornya tidak masalah. Nomor besar maupun kecil juga tidak masalah.

"Kami pernah nomor 24 tahun 1999. Kemudian 2004 nomor 16. Dan tahun 2009 nomor 8. Jadi buat PKS nomor besar pernah, nomor kecil juga punya pengalaman," urai Luthfi.

"Sehinga buat kami nomor berapa pun tidak masalah. Yang penting kerja keras kader dan simaptisan untuk memenangkan PKS. Dan kami juga selalu berkeyakinan bahwa kemenangan itu datang dari yang di atas," imbuh dia.

PKS, lanjut Luthfi, tidak mau terjebak dalam tahayul nomor, yang menganggap nomor tertentu membawa keberuntungan. "Buat PKS semua nomor baik dan membawa keberuntungan asal kita mau kerja keras dan dekat dengan yang di atas," jelas dia.

PKS akan segera mensosialisasikan nomor urur parpol hasil undian KPU. Sosialisasi akan dilakukan ke seluruh wilayah Indonesia.

Minggu, 13 Januari 2013

Kisah Anak Penjual Gorengan yang Jadi Gubernur

Ini kisah nyata. Ada seorang ibu bijak yang punya kebiasaan spesial. Di sela-sela aktivitasnya yang seabrek-abrek dia punya kebiasaan bercerita kepada anak-anaknya didampingi suami tercinta. Saking spesialnya, anak-anaknya selalu menunggu-nunggu waktu bercerita sang ibu tersebut, yang biasanya dia lakukan setiap hari Senin ba’da Isya.
Nah, ada satu cerita dari sang ibu yang menjadi unggulan dan sangat disukai anak-anaknya, yaitu cerita tentang anak penjual gorengan yang sangat menginspirasi.
Begini ceritanya…
“Di suatu daerah terpencil di pasisian Jawa Barat, ada seorang anak lelaki kecil dari sebuah keluarga sederhana (kalau gak di bilang miskin). Anak itu bersemangat untuk menuntut ilmu di sela kekurangan materi ibu bapaknya. Oleh karena itu dia selalu membawa gorengan buatan tetangganya untuk (dijual demi) membantu membiayai sekolahnya. Hal itu dilakukannya dari SD sampai SMA.
Usai lulus SMA, anak ini mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), dan LULUS. Tapi sayangnya dia tidak bisa masuk karena tidak ada biaya. Lalu dia juga daftar ke Institut Pertanian Bogor (IPB) Teknologi Pangan, dan LULUS. Tapi lagi-lagi sayang, dia tidak bisa masuk, juga karena masalah biaya.
Hingga akhirnya anak itu mendengar ada sekolah gratis dari kedubes Saudi Arabia. Tapi masalahnya, dengan basic SMA, mana ada pelajaran bahasa Arab. Padahal bahasa pengantar di sekolah tersebut menggunakan bahasa Arab. Maka jadilah anak itu banting tulang, belajar bahasa Arab secara otodidak.
Singkat cerita, sang anak diterima di sekolah tersebut. Dan selama menjadi mahasiswa, anak itu juga masih tetap “jualan gorengan”, hingga akhirnya dia lulus dengan meraih nilai terbaik…”
Sambil tersenyum sang ibu tiba di ending ceritanya…
“Anak penjual gorengan itu sekarang bahkan dipercaya menangani masalah masyarakat… Anak itu sekarang ada di samping ibu… (sambil melirik sang suami yang senyum-senyum di sampingnya)
Dialah ayah kalian Gubernur Jawa Barat saat ini. Dialah Ahmad Heryawan, Lc.”

Seperti diceritakan oleh Netty Prasetiyani saat kunjungan ke Rumah Keluarga Indonesia (RKI)

Rabu, 09 Januari 2013

PKS Tolak Pasangan Suami Istri Jadi Caleg


PKS yang merupakan salah satu partai Islam tampaknya benar-benar belajar dan mengevaluasi beberapa agenda politik dari tahun sebelumnya untuk menghadapi Pemilu 2014. Ini terlihat dari rencana PKS dalam mengajukan daftar calon legislatif (caleg) baik di kursi DPR RI, DPRD provinsi maupun DPRD kabupaten/kota.

Dari penyampaian Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dalam Media Gathering disela-sela kegiatan Safari Dakwah III Wilda Sumatera di Provinsi Jambi, Selasa (8/1), jelang pelaksanaan masa kampanye akbar 17 Januari 2013 ini, PKS sudah memberikan intruksi dan harapan terkait dalam pengajuan daftar caleg.

Pertama, kata dia PKS sangat menolak dan akan mencoret jika dalam daftar caleg ada pasangan suami-istri. Dia beralasan, jika kedua tersebut lolos dan menjadi pejabat publik, tentunya waktu yang tersisa bagi keluarga sangat terbatas.

“Jika ini terjadi, jelas akan mempengaruhi keberlangsungan kehidupan keluarga. Siapa yang bertugas menjalankan keluarga dan ini akan berpengaruh dengan keluarga, termasuk dengan pendidikan anak. Karena keluarga salah satu solusi untuk mengontrol anak dalam mengantisipasi perkembangan zaman saat ini,” ujarnya.

Misalnya, masalah peredaran narkoba yang kini sudah menjamah ke siswa tingkat Sekolah Dasar (SD), termasuk juga soal tawuran dan sebagainya. “Makanya ini perlu adanya perhatian keluarga. Belum lagi masalah keluarga lainnya. Makanya, PKS sangat selektif untuk menentukan daftar caleg meskipun suami-istri sangat berpotensi,” katanya.

Bagaimana jika nama suami-istri masuk dan berkeyakinan sangat potensi untuk meraup dukungan suara yang signifikan, kata LHI PKS tetap tidak akan menerima keduanya jika dimasukkan, dan PKS jelas akan mencoret salah satu apakah suami atau istri.

“Makanya, sebelum PKS menentukan keputusan, kita menyerahkan suami-istri untuk menyelesaikannya secara adat. Silahkan berunding dan mana yang harus maju dan mundur,” tandasnya.

Kedua, PKS juga akan mencoret jika ada nama istri pejabat publik apakah menteri, gubernur maupun bupati/walikota. LHI beralasan, jika suami pejabat publik, sementara istri didorong maka PKS mengkhawatirkan akan adanya penyalahgunaan kekuasaan.

“Termasuk juga dengan mengoptimalkan kekuatan suami selaku pejabat publik untuk mendorong istri di legislatif. Nanti pihak KPU segan dan sebagainya. PKS ingin Pemilu bersih, jujur dan adil. Tidak ada penyalahgunaan wewenang. Kalau menang fair jika kalah juga fair,” ucapnya.

Terakhir, sebut Luthfi yang didampingi Ketua DPP PKS Wilda Sumatera Chairul Anwar dan Ketua DPW PKS Provinsi Jambi Safrudin Dwi Apriyanto, dimana PKS dalam rangka mengoptimlkan peran kader yang ada di legislatif dengan disisa masa jabatan yang ada saat ini, termasuk menjaga dan menata daerah masing-masing melarang untuk melaksanakan kegiatan yang kontroversial.

Dia menyebutkan, kegiatan yang kontroversial yang tidak diterima masyarakat, seperti melaksanakan kegiatan studi banding ke luar negeri. “PKS sangat tegas jika ada kadernya yang melakukan kegiatan yang kontroversial yang tidak diterima masyarakat untuk diberi sanksi. Jika itu ada laporannya jelas akan kita tindaklanjuti,” sebutnya.

Selain itu, lanjut LHI, dari pengalaman sebelumnya, ada kader PKS yang terlibat dugaan tindak pidana dengan ancamana hukuman penjara diatas lima tahun. Dalam aturan main PKS, jika ancaman tersebut maka kader yang di legislatif harus mengundurkan diri atau diberhentikan. (roz)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan